MAKALAH KATETERISASI
TUGAS
MAKALAH
“KATETERISASI ”
Dirujuk untuk tugas kelompok Mata Kuliah : Kebutuhan
Dasar Manusia (KDM)
Dosen Pengampu : Ibu
Nuril Nikmawati., S.Kep, Ns, M.Kes
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 5 :
1.
Nafisa
Yasmin Suseno P1337424521031
2.
Fatimatul
Tazkia Ika Dewi P1337424521032
3.
Ferlin
Arfilia P1337424521033
4.
Puji
Lestari P1337424521034
5.
Ulfa
Estriana Salsabila P1337424521035
6.
Wulandari P1337424521036
KELAS
FRAGARIA ( SEMESTER 2)
JURUSAN
KEBIDANAN
PRODI
SARJANA TERAPAN KEBIDANAN MAGELANG DAN PROFESI BIDAN
POLTEKKES
KEMENKES SEMARANG KAMPUS V MAGELANG
2022/2023
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya guna memenuhi tugas
kelompok Kebutuhan Dasar
Manusia dengan judul ”Kateterisasi “. Pada kesempatan ini kami
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Mata Kuliah Kebutuhan Dasar Manusia yang telah memberikan tugas kepada kami. Kami
juga ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak yang membantu pembuatan makalah
ini. Kami jauh dari kata sempurna, dan ini merupakan Langkah yang baik dari
studi yang sesungguhnya. Oleh karena itu, karena keterbatasan waktu dan
kemampuan kami, maka kritik dan saran yang membangun senantiasa kami harapkan.
Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kami dan para pembaca
Magelang,26 Februari 2022
Penulis
(Kelompok 5 KDM )
DAFTAR ISI
COVER................................................................................................................................
KATA PENGANTAR.........................................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................................................
B. Rumusan Masalah..........................................................................................................
C. Tujuan.............................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi.............................................................................................................................
B. Anatomi Fisiologi Sistem Kemih...................................................................................
C. Indikasi Pengguna Kateter............................................................................................
D. Tujuan Pemasanga Kateter...........................................................................................
E. Pemasangan Kateter Urine............................................................................................
F. Pelepasan Kateter............................................................................................................
G. Faktor Resiko Kateterisasi.............................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................................................
DFTAR PUSTAKA............................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kateterisasi uretra merupakan sebuah prosedur rutin yang
dilakukan untuk mengeluarkan isi urin dalam kandung kemih secara langsung.
Tindakan ini dilakukan untuk berbagai tujuan, baik untuk keperluan diagnostik
(mencari etiologi dari gangguan sistem urin) atau terapi (untuk mengurangi
retensi urin, dalam pengobatan tertentu, atau irigasi). Prosedur harus
dikerjakan oleh tenaga medis, baik dokter maupun perawat. Pemasangan kateter
juga dapat dilakukan segera bila diperlukan, dipasang dalam jangka waktu yang
tidak terlalu lama seperti saat prosedur operasi, atau dalam jangka panjang
seperti pada kondisi retensi urin kronik. Kateterisasi
uretra adalah pemasangan kateter yang dimasukkan kedalam buli-buli (bladder)
pasien melalui urethra. Kateter digunakan sebagai alat untuk menghubungkan
drainase urin dari bladder ke urine bag atau container.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa itu kateterisasi?
2.
Apa tujuan dari kateterisasi?
3.
Bagaimana cara pemasangan kateter?
4.
Bagaimana cara pelepasan kateter?
C.
Tujuan
Untuk
memahami lebih banyak tentang kateterisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Kateter
urine adalah alat berupa selang kecil tipis yang terbuat dari karet atau
plastik berbahan lentur. Alat ini dimasukkan ke dalam saluran kencing agar
penggunanya bisa kencing dan membuang urin dengan normal. Penggunaan
kateter urine disarankan bagi orang-orang dengan gangguan pada sistem
perkemihan termasuk penyakit kandung kemih.
Kateter urine memiliki digunakan dalam berbagai bidang medis, baik untuk
menangani penyakit tertentu hingga membantu prosedur operasi. Alat ini biasanya
diperlukan saat seseorang yang sedang sakit sehingga tidak bisa kencing hingga
tuntas (anyang-anyangan). Jika
kandung kemih tidak dikosongkan, air kencing akan menumpuk dalam ginjal dan
menyebabkan kerusakan hingga gagalnya fungsi ginjal itu
sendiri.
B.
ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM
KEMIH
Sistem urinaria terdiri dari bermacam-macam struktur dengan masing-masing
fungsinya. Struktur inibekerja selaras untuk mengatur keseimbangan cairan
tubuh, elektrolit dan asam basa dengan caramenyaring darah yang melalui ginjal,
reabsorbsi selektif air, elektrolit dan non elektrolit sertamengekskresi
kelebihannya sebagai kemih. Ginjal juga mengeluarkan sampah metabolisme (sepertiurea, kreatinin dan
asam urat) dan zat kimia asing. Selain fungsi regulasi dan ekskresi, ginjal
jugamensekkresi renin, bentuk aktif vitamin D dan eritropoetin. (Hall, 2003;
Price and Wilson, 1995). Struktur yang membangun sistem urinaria terdiri dari:
1. Ginjal
Ginjal
merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terletak di kedua sisi kolumna
vertebralis. Ginjalkanan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan ginjal kiri
karena tertekan ke bawah oleh hati. Kutupatasnya terletak setinggi kosta
keduabelas, sedangkan kutup atas ginjal kiri terletak setinggi kostasebelas.
Ginjal terdiri dari komponen-komponen di bawah ini:
a) Kapsul
ginjal yaitu lapisan jaringan ikat yang kuat mengelilingi ginjal
b) Korteks
ginjal, terletak dibawah kapsul ginjal dan terdiri dari tubulus ginjal sebagai
sistem filtrasi.
c) Nefron
Nefron
merupakan unit fungsional ginjal . Setiap ginjal terdiri dari satu juta nefron
yang padadasarnya mempunyai struktur dan fungsi sama, dengan demikian pekerjaan
ginjal dapat dianggapsebagai jumlah total dari fungsi semua nefron tersebut.
Setiap
nefron tersusun dari kapsula bowmanang mengitari rumbai kapiler glomerulus,
tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle dan tubuluskontortus distal yang
berlanjut sebagai duktus pengumpul. Struktur inilah yang membuang sisa
hasilmetabolisme dari darah dan membentuk urin untuk dikeluarkan. Tiga fungsi
utama nefron dapat disebutkan sebagai berikut:
1) Mengontrol
cairan tubuh melalui proses sekresi dan reabsorbsi cairan.
2) Ikut
mengatur pH darah.
3) Membuang
sisa metabolisme darah
d).
Medula ginjal
Medula ginjal
terbagi-bagi menjadi baji segitiga yang disebut piramid, tampak bercorak
karenatersusun dari segmen-segmen tubulus dan duktus pengumpul nefron. Piramid-piramid
tersebut diselingioleh bagian korteks yang disebut kolom bertini.
e).
Papila ginjal
Papila (apeks) dari tiap
piramid membentuk duktus papilaris Bellini yang terbentuk dari persatuan
bagianterminal dari banyak duktus pengumpul.
f).
Kaliks
Setiap duktus papilaris
masuk ke dalam suatu perluasan ujung pelvis ginjal berbentuk seperticawan yang
disebut kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu membentuk kaliks mayor
yangselanjutnya bersatu menjadi pelvis ginjal. Pelvis ginjal merupakan
reservoir utama sistem pengumpulginjal. Ureter menghubungkan pelvis ginjal
dengan kandung kemih.
2. Ureter
Ureter
merupakan saluran yang panjangnya 10-12 inci, terbentang dari ginjal
sampaikandung kemih. Fungsi satu-satunya adalah menyalurkan kemih ke kandung
kemih. Urin mengalirmelalui ureter karena adanya gerakan peristaltik ureter.
Sebuah membrane yang terletak padasambungan ureter dan kandung kemih berfungsi
sebagai katup untuk mencegah aliran balik urin.
3. Kandung
Kemih
Kandung
kemih adalah satu kantung berotot yang dapat mengempis, terletak di belakang
simfisispubis. Kandung kemih mempunyai tiga muara: dua muara ureter dan satu muara
uretra. Fungsi kandung kemih adalah sebagai tempat penyimpanan kemih sebelum
meninggalkan tubuh dan dibantu oleh uretra, kandung kemih berfungsi mendorong
kemih keluar tubuh. Kandung kemih dapatmenampung sampai dengan 1000 ml urin.
Ketika mencapai 250 ml urin dalam kandung kemih, pesanberkemih terkirim melalui
corda spinal, sehingga seseorang merasakan ingin berkemih. Pengeluaran urindikontrol
oleh spingter interna dan eksterna.
4. Uretrha
Urethra
adalah saluran kecil yang dapat mengembang, berjalan dari kandung kemih sampai
keluartubuh. Panjangnya pada wanita 3-5 cm mulai dari dinding anterior vagina
dan keluar diantara klitoris danostium vagina. Pada pria panjangnya sekitar
18-20 cm, melewati prostate sampai glands penis. Muarauretra keluar tubuh
disebut meatus urinarius. (Hall, 2003 ; Price and Wilson, 1995).
C. Indikasi Pengguna Kateter
Kateter urin sangat
dibutuhkan oleh orang-orang dengan kondisi berikut:
1)
Mengalami retensi urin, yakni kondisi ketika kandung
kemih tidak dapat kosong seutuhnya.
2)
Inkontinensia urine, yaitu, ketidakmampuan untuk
mengontrol keluarnya urine.
3)
Sedang tidak boleh banyak bergerak, misalnya akibat
cedera atau usai operasi.
4)
Frekuensi buang air kecil, jumlah urin yang keluar,
dan aliran urin perlu dimonitor, misalnya pada pasien penyakit
ginjal.
5)
Memiliki kondisi medis yang memerlukan pemasangan
kateter, seperti cedera saraf tulang belakang, multiple
sclerosis, dan demensia.
6)
Untuk memasukkan obat-obatan langsung ke kandung
kemih, misalnya pemberian kemoterapi pada pasien kanker kandung kemih.
D. Tujuan pemasangan
kateter:
1)
Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih
2)
Untuk mengumpulkan specimen urine
3)
Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam
kandung kemih
4)
Untuk mengosongkan kantung kemih sebelum dan selama
pembedahan
a.
Berdasarkan
bahannya, kateter urine dibagi menjadi:
1)
Kateter plastik untuk pasien dengan penyakit yang
tidak kronis. Alat ini dipakai sementara karena lebih mudah rusak dan tidak
selentur bahan lainnya.
2)
Kateter lateks digunakan untuk pemakaian jangka waktu
kurang dari 3 minggu.
3)
Kateter silikon murni untuk penggunaan selama 2-3
bulan karena bahannya lebih lentur dan cocok bagi saluran kencing (uretra).
4)
Kateter logam dengan pemakaian sementara, biasanya
untuk mengosongkan kandung kemih pada ibu yang baru melahirkan.
b.
Sementara
itu, berdasarkan kegunaannya, kateter urine dibagi menjadi:
1. Indwelling catheter (kateter uretral atau
suprapubik)
Indwelling catheter merupakan kateter yang
dimasukkan ke dalam kemih. Disebut pula sebagai Foley catheter,
alat ini biasanya digunakan untuk mengatasi inkontinensia urin atau retensi
urine. Penggunaan kateter disarankan kurang dari 30 hari. Kateter ini
dipasangkan ke kandung kemih melalui uretra atau lubang kecil pada perut. Ujung
kateter dilengkapi sebuah balon kecil yang akan mengembang di dalam saluran
kemih. Balon ini berfungsi menjaga posisi selang agar tidak bergeser.
- Kateter
kondom (kateter eksternal)
Penggunaan
kateter ini biasanya diberikan pada pria dengan inkontinensia urine. Seperti
namanya, kateter urine ini dipasang di luar tubuh dan berbentuk seperti kondom
untuk menutupi kepala penis pasien. Ada tabung kecil yang berfungsi mengalirkan
urin. Kateter kondom perlu diganti setiap hari bila tidak didesain untuk penggunaan
jangka panjang. Dibandingkan dengan indwelling catheter, kateter kondom
lebih nyaman dan memiliki risiko infeksi yang lebih kecil. Namun, pemakaian
kateter ini dapat meningkatkan risiko iritasi kulit karena sering dilepas dan
dipasang kembali.
- Kateter
intermiten (jangka pendek)
Kateter intermiten diperuntukkan bagi
pasien yang belum mampu buang air kecil untuk sementara karena operasi. Begitu
kandung kemih dan saluran kemih kembali berfungsi normal, kateter urin akan
dilepas. Selang dipasang melalui sayatan kecil
pada uretra atau lubang kecil yang dibuat di bawah perut.
E.
Pemasangan kateter urine
Pemasangan Kateteter Urine atau kateterisasi adalah
prosedur untuk memasukkan selang kateter melalui saluran kencing (uretra)
menuju kandung kemih. Di sinilah air kencing ditampung sementara sebelum
dikeluarkan dari tubuh.
Pemasangan
Kateter
a.
Persiapan Alat
1)
Handscone
2)
Spuit 10 cc
3)
Kateter urine
4)
Kapas sublimat
5)
Pelumas
6)
Urine bag
7)
Selimut
8)
Pengalas
9)
Plester dan gunting perban
10)
Bengkok
b.
Prosedur
·
Pada wanita:
1)
Memberitahu dan menjelaskan pada klien.
2)
Mendekatkan alat-alat
3)
Memasang sampiran
4)
Mencuci tangan
5)
Menanggalkan pakaian bagian bawah
6)
Memasang selimut mandi,perlak dan pengalas bokong
7)
Menyiapkan posisi klien
8)
Meletakkan dua bengkok diantara tungkai pasien
9)
Mencuci tangan dan memakai sarung tangan.
10)
Lakukan vulva higyene
11)
Mengambil kateter lalu ujungnya diberi faseline 3-7 cm
12)
Membuka labiya mayora dengan menggunakan jari telunjuk
dan ibu jari tangan kiri sampai terlihat meatus uretra, sedangkan tangan kanan
memasukkan ujung kateter perlahan-lahan ke dalam uretra sampai urine
keluar,sambil pasien dianjurkan menarik nafas panjang.
13)
Menampung urine kedalam bengkok bila diperlukan untuk
pemeriksaan. Bila urine sudah keluar semua ,anjurkan klien untuk menarik nafas
panjang, kateter cabut pelan pelan di masukkan ke dalam bengkok yang berisi
larutan klorin.
14)
Melepas sarung tangan dan masukkan ke dalam bengkok
bersama dengan kateter dan pinset.
15)
Memasang pakaian bawah, mengambil perlak dan pengalas.
16)
Menarik selimut dan mengambil selimut mandi
17)
Membereskan alat
18)
Mencuci tangan
·
Pada Pria
1)
Memberitahu dan menjelaskan pada klien.
2)
Mendekatkan alat-alat
3)
Memasang sampiran
4)
Mencuci tangan
5)
Menanggalkan pakaian bagian bawah
6)
Memasang selimut mandi,perlak dan pengalas bokong
7)
Menyiapkan posisi klien
8)
Meletakkan dua bengkok diantara tungkai pasien
9)
Mencuci tangan dan memakai sarung tangan.
10)
Petugas membuka dan membersihkan alat kateterisasi dan
kelamin pasien.
11)
Selang diberikan pelumas agar lebih mudah dimasukkan.
12)
Penis ditutupi dengan kain steril yang telah dilubangi
di bagian tengahnya.
13)
Penis akan dibersihkan terlebih dahulu dengan
antiseptik.
14)
Vulva pada penis akan dibuka.
15)
Jelly dan pelumas disemprotkan ke dalam uretra.
16)
Selang kateter dimasukkan sedalam 15 – 22,5 cm sembari
dipegang penisnya.
17)
Kantung akan diisi dengan air steril sebanyak yang
tertera pada kateter.
18)
Selalu kosongkan kantong urine yang terhubung pada
kateter setiap 6 – 8 jam.
19)
Setelah memasang atau melepas kateter, lepas APD, lalu
cuci tangan.
F.
Pelepasan Kateter
Peralatan
1)
Sarung tangan
2)
Pinset
3)
Spuit
4)
Batadine
5)
Bengkok 2 buah
6)
Plester
Prosedur
1)
Memberitahu pasien
2)
Mendekatkan alat
3)
Memasang sampiran
4)
Mencuci tangan
5)
Membuka plester
6)
Memakai sarung tangan
7)
Mengeluarkan isi balon kateter dengan spuit
8)
Menarik kateter dan anjurkan pasien untuk tarik nafas
panjang, kemudian letakkan kateter pada bengkok.
9)
Olesi area preputium(meatus,uretra) dengan betadin
10)
Membereskan alat
11)
Melepaskan sarung tangan
12)
Mendokumentasikan.
G.
Faktor Resiko
Kateterisasi
Pada kebanyakan kasus,
bakteri akan tumbuh tanpa memicu gejala apapun. Meskipun begitu, pertumbuhan
bakteri dapat menimbulkan gejala infeksi saluran kemih (ISK) sebagai berikut:
·
Demam
·
Menggigil
·
Sekit kepala
·
Warna urine keruh akibat tercampur nanah
·
Urine keluar dari kateter
·
Terdapat darah pada urine
·
Urine berbau busuk
·
Sakit punggung pada bagian bawah dan pegal-pegal
a. Kateter juga dapat
menimbulkan komplikasi lain, seperti:
1)
Reaksi alergi bahan kateter
2)
Batu kandung kemih
3)
Cedera uretra
4)
Darah dalam urine
5)
Kerusakan ginjal akibat penggunaan kateter dalam
jangka waktu lama
6)
Infeksi pada saluran kemih, ginjal, dan darah
b. Untuk menghindari
kontraindikasi pemasangan kateter, petugas kesehatan harus menerapkan pedoman
berikut:
1)
Lakukan pemasangan kateter apabila diperlukan (sesuai
indikasi).
2)
Lakukan selalu cuci tangan sebelum dan sesudah
prosedur.
3)
Pasang kateter dengan teknik aseptik dan peralatan
steril.
4)
Pasang dan amankan kateter dengan baik.
5)
Jaga agar sakuran antara selang kateter dengan kantung
urine tetap tertutup dan steril.
6)
Pengambilan spesimen urine untuk pemeriksaan harus
dengan tindakan aseptik.
7)
Jaga agar aliran urine tidak tersumbat.
c. Agar menghindari
komplikasi, pasien yang menggunakan kateter juga harus memperhatikan hal-hal berikut:
1)
Mencuci bagian kulit di sekitar area pemasangan
kateter dengan sabun yang lembut dan air, paling sedikit dua kali sehari.
Keringkan dengan handuk bersih.
2)
Cuci tangan dengan air hangat sebelum dan sesudah
menyentuh kateter.
3)
Pastikan tubuh terhidrasi dengan baik dengan minum air
secukupnya sehingga warna urine yang dihasilkan jernih.
4)
Cegah konstipasi dengan cara menjaga tingkat hidrasi
tubuh dan konsumsi makanan berserat tinggi seperti buah dan sayur.
5)
Dilarang mengoleskan lotion atau bedak ke area di
sekitar kateter.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kateter urin merupakan alat yang
penting bagi pasien operasi dan penderita gangguan sistem perkemihan. Alat ini
membantu mengeluarkan dan menampung urin hingga pasien bisa buang air kecil
kembali dengan normal. Tindakan
ini dilakukan untuk berbagai tujuan, baik untuk keperluan diagnostik (mencari
etiologi dari gangguan sistem urin) atau terapi (untuk mengurangi retensi urin,
dalam pengobatan tertentu, atau irigasi). Prosedur harus dikerjakan oleh tenaga
medis, baik dokter maupun perawat. Perlu
diketahui juga bahwa penggunaan kateter dapat meningkatkan risiko infeksi
saluran kemih.
DAFTAR
PUSTAKA
(DOC)
PEMASANGAN KATETER URIN | Ayustia Fani - Academia.edu
Kateter
Urine: Untuk Apa, Siapa yang Perlu, dan Bagaimana Pasangnya? (hellosehat.com)
MANUAL-SKILLSLAB-SEMESTER-5-KATETER-2018.pdf
(uns.ac.id)
Kateterisasi Adalah:
Pengertian, Arti dan Definisinya (depkes.org)
Alessia, Tamara. 2020. Kateter Urine:
Siapa yang Perlu Pakai dan Bagaimana Cara Pasangnya? https://hellosehat.com/urologi/kandung-kemih/kateter-urin/,
diakses pada Rabu, 16 Februari 2022 pukul 09.51
Aprilano, Wendy Damar. https://www.alomedika.com/tindakanmedis/genitourinaria/kateterisasi-uretra-pria,
diakses pada Rabu, 16 Februari 2022 pukul 09.51
Joseph, Novita. 2021. Langkah Pemasangan
Kateter Urine yang Perlu Diketahui. https://hellosehat.com/urologi/kandung-kemih/cara-pemasangan-kateter/,
diakses pada Kamis, 24 Februari 2022 pukul 20.34
Saputra. 2015. Pemasangan dan Pelepasan
Kateter. https://saputraatjeh.wordpress.com/2015/09/28/pemasangan-dan-pelepasan-kateter/,
diakses pada Rabu, 16 Februari 2022 pukul 09.47
Singgih, Rendy. https://www.alomedika.com/tindakan-medis/genitourinaria/kateterisasi-uretra-wanita,
diakses pada Rabu, 16 Februari 2022 pukul 09.51

Komentar
Posting Komentar